DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM IAIN MENUJU UIN SUNAN AMPEL: DARI POLA PENDEKATAN DIKOTOMIS KE ARAH INTEGRATIF MULTIDISIPLINER-MODEL TWIN TOWERS
This is my site Written by admin on November 28, 2012 – 11:39 am

 

Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag[1]

ABSTRACT

The main questions in this study are: (1) How is the scholarly structure of UIN Sunan Ampel Surabaya based on the IMDT2 model? (2) What are the strategies in the IAIN curriculum development towards UIN Sunan Ampel using the IMDT2 model paradigm? The study employs the descriptive qualitative approach and the data collection is done through the library research. During the library research many books and journals on the multi-disciplinary integration were reviewed as well as the proposal of the IAIN to UIN conversion. For the data analysis, the inductive and descriptive techniques were employed.

The result of the study suggests that the scholarly structure of UIN Sunan Ampel Surabaya integrates the religious teaching with science using the integrated twin tower paradigm with three pillars. To support the program there are at least two strategies being developed (1) The new students have to stay in the provided dorm during the full 2 semesters (2) Strengthening the science spiritualism using the integrated scholarly principles (social-humanities, science and technology) and Islam. The curriculum design is based on the three pillars (1) the strengthening of the pure and rare Islamic knowledge (2) the integration of Islamic knowledge and the social-humanity science (3) the weighting of science and technology with the Islamic teaching. Furthermore, to integrate the religious teaching and science, the symbiosis-mutualism model can be utilized.

The study recommends that (1) at the philosophical domain; the integration of IMDT2 model to each course should be given fundamental existential value in relation to other fields of study and its relations to other humanistic values. (2) at the material domain, the multidisciplinary integration is a process of integrating universal truth values  in general and one of Islamic values in particular such as in the teaching of  anthropology, philosophy, etc. The implementation can be in the form of integrating to the  curriculum package, the course naming and coding depicting the interrelation between science and islam. And the integration model to the themes of courses.

Key Note:The design of the curriculum development in UIN Sunan Ampel, dichotomy approach towards the integrative multidisciplinary

A.  Pendahuluan

Perjalanan panjang cita-cita konversi IAIN Sunan Ampel ke Universitas Islam Negeri (UIN) seolah-olah hampir di depan mata, setelah Senat Institut menyetujui konversi tersebut pada tanggal 1-2 Juli 2010 di Hotel Wisata Bahari Lamongan. Meskipun sebelumnya, kehawatiran dan kecemasan dari civitas akademik tidak bisa ditutup-tutupi. Berbagai pertanyaan mulai muncul ke permukaan: bagaimana nasib Fakultas Adab, Dakwah, Syariah, Ushuluddin, dan Tarbiyah? Akankah fakultas-fakultas ini dipinggirkan dan dimarginalkan? Bernasib samakah fakultas-fakultas ini dengan fakultas agama di Universitas Islam Indonesia (UII).

Mengapa harus berubah menjadi Universitas? Tidak cukupkah dengan nama Institut seperti yang disandangnya kurang lebih selama 48 tahun? Jika fakultas atau program studi umum dikembangkan, bagaimana nasib prodi yang selama ini telah berjalan? Akankah struktur keilmuan, kurikulum, dan silabusnya sama dan sebangun dengan sebelum dan sesudah UIN diresmikan? Begitu pula pertanyaan bagaimana struktur mata kuliah, kurikulum dan silabus pada prodi-prodi umum di UIN dan universitas umum yang lain?. Dan berbagai pertanyaan yang lain.

Untuk merespon berbagai pertanyaan tersebut, yang perlu digaris bawahi adalah adanya catatan penting yang termaktub dalam surat Mendiknas yang ditujukan kepada Menteri Agama tanggal 23 Januari 2004 sebagai berikut: ”Meskipun IAIN Sunan Kalijaga dan STAIN Malang berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Malang, tugas pokoknya tetap sebagai institut pendidikan tinggi bidang Agama Islam, sedang penyelenggaraan program non-agama Islam (umum) merupakan tugas tambahan”. Dengan demikian, sebagai institut pendidikan tinggi, bidang agama Islam masih tetap menjadi tugas utama. Main mandate-nya tidak boleh dan tidak perlu digeser oleh wider mandate-nya.  Hanya saja kualitas dan koleksi perpustakaan, buku literatur yang digunakan, jaringan kelembagaan, pengembangan metodologi pengajaran dan penelitian serta mentalitas keilmuan para dosen dan mahasiswanya perlu memperoleh titik fokus penekanan yang lebih daripada sebelumnya sesuai dengan kultur akademik yang ada pada universitas. (Abdullah, 2005: 238-239).

Di samping itu, menurut Dr.Afandi Muchtar, MA, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, ada beberapa isu strategis yang ter terkait dengan pengembangan IAIN ke UIN. Diantara isu strategis itu adalah: pertama, integrasi ilmu keislaman dengan ilmu umum. Jika hanya menjadi institusi keagamaan saja, maka akan menemui kesulitan dalam program islamisasi ilmu atau merumuskan integrasi antara ilmu keislaman dengan ilmu umum. Dikhotomi keilmuan ini adalah peninggalan zaman Balanda yang tetap dilestarikan hingga sekarang. Adapembagian dan batas yang tegas antara ilmu agama dan ilmu umum.

Tugas UIN adalah melakukan integrai keilmuan dimaksud. Sudah ada beberapa model pengintegrasian ilmu agama dan umum yang dilakukan oleh beberapa UIN, misalnya UIN Sunan Kalijaga dengan model interkoneksi dan integrasi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan model pohon ilmu, UIN Syarif Hidayatullah dengan model integrasi dan IAIN Sunan Ampel dengan model twin tower. Ini adalah bagian dari kekayaan akademik yang ke depan harus dikembangkan baik dari sisi ontologis, epistemologis san aksiologisnya.

Kedua,  tantangan yang tidak kalah penting adalah pendidikan untuk bangsa. Yang menjadi tantangan di era sekarang adalah pendidikan untuk pendidikan atau pendidikan untuk kepentingan diri. Padahal pendidikan adalah investasi manusia dan sekaligus investasi masyarakat. Pendidikan adalah untuk bangsa. Pendidikan harus mencetak manusia menjadi agen perubahan. Pendidikan harus diarahkan agar dapat menghasilkan agen-agen pengembangan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan yang lebih. Jadi, pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia Indonesia yang pintar untuk kepentingan dirinya saja, akan tetapi juga untuk menjadi agen sosial.

Ketiga, pendidikan harus diarahkan kepada dan menjawab tentang keindonesiaan. Dan secara khusus untuk pendidikan Islam adalah untuk menjawab keislaman dan keindonesiaan. Univesitas Islam harus memberi bukti bahwa keislaman tidak bertentangan secara diametral dengan keindonesiaan. (Syam, 9 Maret 2011).

 

Kerena itulah,ke depan, yang diharapkan bisa menyelesaikan relasi pendidikan, keislaman dan keindonesiaan adalah insitusi yang memiliki seperangkat pengetahuan yang cukup untuk hal ini. Problem ini tidak bisa diselesaikan secara parsial, namun harus dilakukan melalui sistem integratif. Melalui UIN maka pemecahan sistemik integratif akan bisa dilaksanakan.

Dalam konteks pendidikan, usaha integrasi ilmu agama dan ilmu umum pernah dilakukan oleh M.Natsir.  Dia mengatakan bahwa pendidikan Islam yang integral tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama. Karena penyatuan antara sistem-sistem pendidikan Islam adalah tuntutan aqidah Islam.

Usaha Natsir untuk mengintegrasikan sistem pendidikan Islam direalisasikan dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam, yang menyatukan dua kurikulum yaitu antara kurikulum sekolah-sekolah tradisional yang banyak memuat pelajaran agama dengan sekolah Barat yang memuat pelajaran umum.      (Nata, dkk.,  2005: 149).

Begitu juga pembaharuan sistem pendidikan Islam yang dilakukan oleh Mukti Ali dalam usahanya memformulasikan lembaga madarasah dan pesantren dengan cara memasukkan materi pelajaran umum ke dalam lembaga-lembaga yang pendiriannya diorientasikan untuk tafaqquh fi al-din. Sebagaimana gagasan Harun Nasution dalam upayanya menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di lembaga pendidikan tinggi Islam, khususnya IAIN Jakarta dengan cara pendekatan kelembagaan dan kurikulum. Pendekatan kelembagaan telah merubah status IAIN Jakarta menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang berimplikasi pada pengembangan kurikulum pendidikan.

Namun pembaharuan pendidikan dengan menggunakan model pendekatan di atas mempunyai kelemahan, yaitu; pertama, akar keilmuan yang berbeda antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Ilmu agama bersumber dari wahyu dan berorientasi ketuhanan, sedangkan ilmu-ilmu umum bersumber pada empirisme dan berorientasikan kemanusiaan. Kedua, modernisasi dan Islamisasi ilmu pengetahuan melalui kurikulum dan kelembagaan, walaupun dilakukan dengan tujuan terciptanya integralisme dan integrasi keilmuan Islam dan umum, sampai kapanpun akan menyisakan dikotomi keilmuan. Implementasi pembagian kurikulum dalam lembaga pendidikan yang dinyatakan telah melaksanakan integralisasi (UIN) yang tetap mengelompokkan mata pelajaran/mata kuliah ilmu-ilmu agama dan mata pelajaran/mata kuliah ilmu-ilmu umum “belum” bisa mewujudkan proses Islamisasi ilmu pengetahuan. Yang terjadi adalah proses Islamisasi kelembagaan dan proses Islamisasi kurikulum. (Nata, dkk., 2005: 150).

Berkaitan dengan hal tersebut, Bilgrami menawarkan konsep Universitas Islam. Dia mengatakan, tujuan universitas Islam bukan sekedar menyelenggarakan “pendidikan tinggi”, tetapi universitas Islam harus mencetak sarjana-sarjana di bidang ilmu-ilmu keislaman dan bersedia menyebarkan ilmu tersebut ke dalam ilmu pengetahuan modern. Di samping itu, juga mencetak orang-orang yang mendalami ilmunya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, yaitu teknik, sosial dan budaya, serta sains. (Bilgrami, tt: 60). Pola seperti ini bisa digunakan sebagai upaya untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.

Dalam rangka mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, IAIN Sunan Ampel memakai “Pendekatan Multidisipliner dengan model Integrative Twin Tower”. Menurut Prof. Nur Syam, Rektor IAIN Sunan Ampel, bahwa menara kembar itu dihubungkan oleh jembatan yang saling bertemu. Jika tower yang satu berisi ilmu alam, ilmu social, ilmu budaya & humaniora, maka di tower yang satu berisi ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqh, ilmu tasawuf dan sebagainya. Dua pembidangan ilmu ini kemudian saling disapakan atau dihubungkan dengan jembatan pendekatan (approach) yang kemudian menghasilkan ilmu keislaman multidisipliner. Pendekatan, yang di dalam filsafat ilmu dinyatakan sebagai pendekatan antar bidang atau antar disiplin atau lintas bidang atau lintas disiplin. Satu bidang atau disiplin menjadi pendekatan dan lainnya menjadi obyek kajian. Al-Qur’an bisa didekati dengan berbagai pendekatan di dalam ilmu-ilmu modern. Demikian pula fiqh, hadits, tasawuf dan sebagainya. (Syam, 9 Maret 2011).

Lebih jelasnya dalam era UIN, misalnya, Fakultas Syariah tidak boleh menolak untuk dimasuki mata kuliah baru yang mengandung muatan humanities kontemporer dan ilmu-ilmu sosial seperti, hermeneutik, cultural dan religious studies, HAM, filsafat ilmu, dan begitu seterusnya. Jika tidak, mahasiswa akan menderita ketika keluar kampus berhadapan dengan realitas sosial-kemasyarakatan dan realitas sosial-keagamaan yang begitu kompleks. Berdasarkan pemikiran tersebut, timbul pertanyaan, bagaimana pengembangan kurikulum integratif yang dapat menjawab tuntutan masyarakat dan perkembangan IPTEK?

Kebutuhan untuk mengembangkan kurikulum integratif pada pendidikan tinggi Islam disebabkan oleh adanya tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembanan IPTEK. Sumardimenyatakan dalam suasana yang semakin kompetetif khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan kemampuan-kemampuan intelektual lainnya, para sarjana IAIN adalah yang banyak menderita kekurangan. Karena pada umumnya pendekatan kurikuler di IAIN masih sangat doktriner dan dogmatis dan sarjana Agama itu belum banyak “ber-try-out” dalam berbagai kesempatan. Sedangkan Ma’arif (1993) mengungkapkan bahwa  kaitan antara pendidikan Islam dan konsep Ilmu, setidak-tidaknya ada tiga persolan pokok yang saling berkaitan yang dapat dijabarkan menjadi; (i) sosok muslim yang menjadi luntang-lantung bila dihadapkan kepada persoalan-persoalan dunia yang selalu berubah dan menantang tampaknya disebabkan oleh idapan krisis identitas diri, sedangkan system pendidikan dan kurikulum pendidikan Islam yang sedang berlalu tidak dapat menolong keadaan, (ii) kegiatan pendidikan Islam di bumi haruslah berorientasi ke langit–suatu orientasi transcendental agar kegiatan itu punya makna spiritual yang mengatasi ruang dan waktu, dan (iii) perlunya dilakukan redefinisi ulama. (Ma’arif, 1993: 12).

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana struktur keilmuan  IAIN menuju UIN Sunan Ampel Surabaya dengan paradigma integratif-multidisipliner model twin towers? (2) Bagaimana strategi pengembangan kurikulum IAIN menuju UIN Sunan Ampel Surabaya dengan paradigma integratif-multidisipliner model twin towers?. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dihimpun dari library research. Teknik ini akan digunakan untuk mengkaji buku-buku, jurnal tentang integrasi-multidisipliner, maupun dokumen proposal pengembangan IAIN menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya. Selanjutnya dalam analisis data peneliti menggunakan pola induktif dan deskriptif analitis.

 

B.       Pembahasan

 

1.    Problem Akademik terhadap Rancang Bangun Keilmuan Keislaman yang Dikotomis-Atomistik

 

Pada dasarnya, ilmu pengetahuan manusia secara umum hanya dapat dikategorikan menjadi tiga wilayah pokok: Natural Science, Sosial Science, dan Humanities. Oleh karenanya, untuk pendirian sebuah universitas, Departemen Pendidikan Nasional mensyaratkan dipenuhinya 6 program studi umum dan 4 program studi sosial. Persyaratan ini bagus, tetapi para ilmuwan sekarang mengeluh tentangoutput yang dihasilkn oleh model pendidikan unversitas yang berpola demikian. Sama halnya keluhan orang terhadap alumni perguruan tinggi agama yang hanya mengetahui soal-soal “normatifitas” agama, tetapi kesulitan memahami historisitas agama sendiri., lebih-lebih historisitas agama lain.

Dalam hal ini, Amin Abdullah (2005: 241-253) mencermati terlebih dahulu pola dikotomis-atomistik dalam bangunan ilmu-ilmu agama (Islam) yang biasa diajarkan di PTAIN. Dalam skema 1, yang diambil inspirasinya dari karya-karya Muhammad ‘Abid Al-Jabiri (1990) dengan modifikasi di sana-sini sesuai dengan perkembangan telaah epistemologi dalam ilmu pengetahuan, Amin Abdullah ingin memperlihatkan struktur fundamental ulumuddin dalam prespektif epistemologi ‘irfani dan burhani. Menurut Al Jabiri, corak Epistemologi bayani didukung oleh pola pikir fiqih dan kalam. Dalam tradisi keilmuan agama Islam di IAIN dan STAIN., besar kemungkinan juga pengajaran agama di sekolah-sekolah, perguruan tinggi umum negeri dan swasta, dan lebih bayani sangatlah mendominasi dan bersifat hegemonik sehingga sulit berdialog dengan tradisi epistemologi ‘irfani dan burhani. Oleh karenanya, bagan skema 1 disebut sebagai corak atau model dikotomis-astomistik. Corak pemikiran ‘irfani (tasawuf; intuitif; al-‘atifi) kurang begitu disukai oleh tradisi berpikir keilmuan bayani (fiqih dan kalam) yang murni, lantaran bercampuraduknya bahkan dikaburkannya tradisi berpikir keilmuan ‘irfani dengan kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi tarekat dengan satahat-satahat nya serta memang kurang dipahaminya struktur fundamental epistemologi dan pola pikir ‘irfani berikut nilai manfaat yang terkandung di dalamnya.

Menurut Amin Abdullah, pengembangan pola pikir bayani hanya dapat dilakukan jika ia mampu memahami, berdialog, dan mengambil manfaat dari sisi-sisi fundamental yang dimiliki oleh pola pikir ‘irfani maupun pola pikir burhani dan begitu pula sebaliknya. Jika saja masing-masing sistem kefilsafatan ilmu keagamaan dalam islamic studies ini berdiri sendiri, tidak bersentuhan antara satu dan lainnya sebagaimana tercermin dengan kukuhnya dinding-dinding pembatas fakultas di lingkungan IAIN dan STAIN, belum lagi tembok pembatas antara keilmuan umum dan keilmuan agama, agak sulit dibayangkan terjadi pengembangan ilmu-ilmu keislaman dalam menghadapi problem-problem komtemporer.

Jika sumber (origin) ilmu dari corak epistemology bayani adalah teks, sedngkan ‘irfani adalah direct experience (pengalaman langsung), epistemology burhani bersumber pada realitas atau al-waqi’, baik realitas alam, social, humanitas, maupun keagamaan. Ilmu-ilmu yang muncul dari tradisi burhani disebut-sebut sebagai al-’ilm al-hushuli, yakni ilmu yang dikonsep, disusun, dan disistematiskan lewat premis-premis logika atau al-mantiq dan bukannya lewat otoritas teks atau salaf dan bukan pula lewat otoritas intuisi.

Kalau saja tiga pendekatan keilmuan agama Islam, yaitu bayani, ‘irfani, dan burhani saling terkait, terjaring, dan terpatri dalam satu kesatuan yang utuh, corak dan model keberagaman Islam, kata Amin Abdullah, jauh lebih komprehensif, dan bukannya bercorak dikotomis-atomistis seperti yang dijumpai sekarang ini. Keilmuan tarbiyah dan juga dakwah mungkin juga ketiga fakultas yang lain belum tentu memahami basis filisofi keilmuan Islam yang fundamental ini dan implikasi dan konsekuensinya dalam dunia praktis kependidikan agama, dunia praktis kedakwaan, kesyariahan, keushuluddinan, dan begitu seterusnya.

Skema 1

Keilmuan IAIN: Pendekatan Dikotomik-Atomistik

 

Sumber Ilmu Penget.

Gugus Paradigmatik

Metodologi

(Process&

Procedure)

Tipe

Argumen

Tujuan

Pembelajaran

Sifat Dasar Keilmuan

Pembidangan

Ilmu

1

Akal

Tajridiyyah

(Abstraktif)

Bahtsiyyah

Demonstratif

·Idrak al-sabab Wa al-Musabbab

Silogistik (Al-Manthiqiyyah)

Al-‘Ilm Al-Hushull

2

Wahyu

Lughawiyyah

(Kalam; Word)

Istintajiyyah

Ijtihadiyyah

Jadaliyyah (Al-‘Uqul Al-Mutanafisah)

Muqarabah Al-Nashsh Li Al-Waqi’

Ustifikatif-Repetitif (Al-Taqlidiyyah)

Al-‘Ilm Al-Tauqifi

3

Intuisi

(Dhamir)

Dzauqiyyah

Tajribah-Bathiniyyah (experience)

Al-La’aqlaniyyah (Preverbal)

Universal Reciprocy

Partisipatif

Al-‘Ilm Al-Hudhuri

 

1.    Kerangka  Kurikulum  Berdasarkan  Paradigma  Integrated  Twin Towers

Ada sejumlah persoalan krusial yang menimbulkan kekhawatiran di sejumlah komponen penting dari stakeholders, baik  internal  maupun  eksternal,  berpusar  pada  masa  depan  ilmuilmu  atau  studi keislaman  (Islamic  studies)  dalam  kerangka  kelembagaan  UIN.  Pertanyaanpertanyaan  dimaksud  di  antaranya  adalah  apakah  dengan menjadi  UIN,  ilmuilmu keislaman  yang  selama  ini  dikembangkan  di  IAIN  Sunan  Ampel  Surabaya  akan terpinggirkan,  ataukah  justeru  menjadi  kekuatan  khas?  Bagaimanakah  strategi kelembagaan  dan  akademik  yang akan dikembangkan  UIN  Sunan  Ampel  Surabaya bisa menjamin  bahwa  ilmuilmu  keislaman  tidak  terpinggirkan,  melainkan  justeru mengalami  penguatan melalui integrasi  bersama  keilmuan   sosialhimaniora   serta sains dan teknologi? 

Sesuai dengan dasar filosofis dan epistemologis di atas, maka ada dua  strategi yang dikembangkan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya untuk merespon  pertanyaanpertanyan  mendasar  di  atas.  Kedua  strategi  itu  adalah (1) pengasramaan model pesantren selama 2 semester bagi mahasiswa baru di  semua jurusan,  dan  (2)  penguatan  spiritualisasi  keilmuan  umum.  Kedua  strategi  ini menunjuk  kepada  kerangka  pengembangan  praktik  penyelenggaraan  pendidikan  di UIN  Sunan  Ampel  Surabaya. 

Strategi  pertama  berdimensi  kegiatan  nonkurikuler (termasuk  melalui  skema  pendampingan  mahasiswa  yang  dikelola  oleh  Pusat  Pendampingan  Mahasiswa/Puspema), dan diselenggarakan semaksimal  mungkin sesuai  dengan  tingkat  kekuatan  dan  kapasitas  kelembagaan  UIN  Sunan  Ampel Surabaya.  Adapun  strategi  kedua  berdimensi  kurikuler  dengan  menunjuk  kepada prinsip  integralisasi  keilmuan  sosialhumaniora  serta  sains  dan  teknologi  dengan keislaman.

Masa  pengasramaan  model  pesantren  hingga  2  semester  di  atas dimaksudkan  untuk  menjamin  pendalaman  dan  pengayaan  pemahaman  seluruh mahasiswa  atas  ajaran  Islam  dan  sekaligus  praktik implementatifnya.  Untuk kepentingan ini, IAIN Sunan Ampel saat ini telah memiliki pesantren mahasiswa yang, meskipun  belum  sanggup  menampung  semua  mahasiswa  baru, namun mampu  menjadi penyedia layanan akademik dan  sosial  keagamaan  melalui  pengasramaan  model pesantren. Selain  keilmuan  agama  yang  menjadi  fokus  materi  akademiknya,  penguatan keterampilan  teknis  bahasa  asing,  Arab  dan  Inggris,  menjadi  perhatian  penting. Dengan begitu, ada standar minimal dari pembelajaran ilmuilmu keislaman yang harus dimiliki  oleh  seluruh  mahasiswa  untuk  kelak  menunjang penguasaan kompetensi sebagai lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Pada  tataran  operasional  praktis,  kerangka  kurikulum  digerakkan  melalui  penguatan  tiga  pilar  program  akademik.  Ketiga  pilar  tersebut bermakna  penting  untuk  memperkuat  keilmuan  keislaman  di  satu  sisi dan spiritualisasi keilmuan umum di sisi lain. Ketiga pilar program akademik dimaksud adalah: (1) penguatan ilmuilmu keislaman murni tapi langka, (2) integralisasi keilmuan keislaman pengembangan dengan keilmuan sosialhumaniora,  dan  (3)  pembobotan  keilmuan  sains  dan  teknologi  dengan  keilmuan keislaman. Atas kerangka akademik ini, maka model  pengembangan  keilmuan UIN Sunan  Ampel  Surabaya  disebut  dengan  integrated  twin  towers  with  three  pillars”.

Dengan  pilar  kerangka  pengembangan  kurikulum  melalui  pembobotan keilmuan  sains  dan  teknologi  dengan  keilmuan  keislaman  ini,  UIN  Sunan  Ampel Surabaya  sama  sekali  bukan  merupakan  ancaman  bagi  berkembangnya  ilmuilmu keislaman,  atau  minimal  meminggirkan  ilmuilmu  keislaman  dari  kerangka penyelengaraan  ragam  pendidikan  di  dalamnya. 

Ketiga  pilar  program  akademik  dari  kerangka  kurikulum  berdasarkan paradigma  integrated  twin  towers  di  atas  merupakan  ciri  khas  pengembangan akademikkeilmuan  UIN  Sunan  Ampel  Surabaya.  Kekhasan akademikkeilmuan dimaksud, di samping merupakan bentuk idealisasi dari pengembangan keilmuan di UIN Sunan Ampel Surabaya sendiri, juga merupakan respon atas berbagai kelemahan (untuk  tidak  menyebut  kesalahan)  yang  banyak  merebak  dalam  praktik penyelenggaraan pendidikan  oleh  institusi  pendidikan  tinggi  lainnya,  termasuk beberapa  UIN  yang  lebih  dulu  beroperasi.  Dengan  ciri  khas  pengembangan akademikkeilmuan  dimaksud, maka  semangat  yang  dikembangkan  oleh  semboyan UIN  Sunan  Ampel  Surabaya  ”Smart  (Cerdas)–Pious  (Berbudi  Luhur)–Honourable (Bermartabat)” .

Dengan  begitu,  amanat  ilahi  berupa  konsep  Ulul  Albab  dengan relatif mudah bisa dibuka jalan realisasinya melalui pengembangan ke-ilmuan model  integrated  twin  towers .  Di  antara karakteristik Ulul Albab tersebut adalah terintegrasinya praktikdzikir dan fikir dan amal. Pengembangan  keilmuan model  integrated  twin  towers  memfasilitas  terciptanya  kekayaan  intelektual, kematangan  spiritual,  dan  kearifan  perilaku.  Selanjutnya,  kekayaan  intelektual menghasilkan  kepribadian  smart  (cerdas),  kematangan  spiritual  menciptakan   keribadian  honourable (bermartabat), dan kearifan perilaku melahirkan kepribadian pious (berbudi Luhur),

2.    Strategi Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Paradigma  Integrated Twin Towers 

 Strategi pengembangan  kurikulum  dimaksud  mengambil  rancang bangun yang meliputi pengembangan 4ranah kompetensi, yakni dasar,  utama, pendukung, dan lainnya.  Pengembangan  kompetensi  dasar  dirangkai  ke  dalam  rumpun mata  kuliah pengembangan  kepribadaian  (MPK).  Pengembangan  kompetensi  utama  disusun  ke dalam rumpun mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK), mata kuliah keahlian berkarya  (MKB),  mata  kuliah  perilaku  berkarya  (MPB),  serta  mata  kuliah berkehidupan  bermasyarakat  (MBB).  Pengembangan  kompetensi  pendukung tersebar di semua rumpun mata kuliah. Adapun  pengembangan kompetensi lainnya berada di rumpun mata kuliah keahlianalternatif.  Seluruh mata kuliah yang masuk   ke dalam rumpun MPK ber-orientasi pada pengembangan kompetensi dasar, dan karena itu berlaku bagi semua mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya. 

Karena  itu pula, maka struktur MPK didesain untuk sanggup merespon kebutuhan  pengembangan  kompetensi  dasar  bagi mahasiswa  di  seluruh  jurusan  dimaksud.  Adapun  struktur MPK  sendiri  meliputi  8 mata kuliah dengan total SKS sebanyak 14, sebagaimana berikut: 

1.  Pengantar Studi Islam (PSI)  (3 SKS) 

2.  Studi alQur’an     (2 SKS) 

3.  Studi Hadits     (2 SKS) 

4.  Bahasa Indonesia     (3 SKS) 

5.  Basaha Arab     (non SKS) 

6.  Bahasa Inggris     (non SKS) 

7.  ISD/IAD/IBD     (2 SKS) 

8.  Civic Education       (2 SKS) 

Sejumlah poin perlu dijelaskan pada struktur MPK di atas. Poin pertamaterkait  dengan  keberadaan  atau  jati  diri mata  kuliah.  Beberapa mata  kuliah  dalam  rumpun  MPK  merupakan  hasil  pengembangan  atau  peleburan.  Mata  kuliah Pengantar Studi Islam (PSI) merupakan contoh hasil pengembangan dari mata kuliahIlmuKalamdan  PSI  yang  selama  ini  diajarkan  dalam  kerangka  kelembagaan  IAIN Sunan  Ampel  Surabaya.  Dengan  kata  lain,  mata  kuliah  PSI  di  UIN  Sunan  Ampel Surabaya merupakan mata kuliahilmu kalam dan PSI yang diperluas dari yang selama ini ada.Perluasan itu meliputi kisikisipembahasan seperti yang selama ini diajarkan dalam  kelembagaan  IAIN  Sunan  Ampel (misalnya  sejarah  Islam  dan  sejarah  studiIslam),  namun  juga  mencakup  substansi studi  Islam  lainnya  seperti dasardasar pemahaman Islam, tauhid, fiqih, serta tasawuf. Seperti halnya PSI, Bahasa Indonesia juga merupkan mata kuliah Bahasa Indonesia yang diperluas dari mata kuliah Bahasa Indonesia  dalam  wadah  IAIN  dengan  mengakomodasi  materi  penyusunan  karya ilmiah.  Adapun Civic  Education  merupakan  hasil  peleburan  dari  mata  kuliah Pancasila.  

Adapun poin kedua berhubungan dengan status mata kuliah Bahasa Arab dan  Bahasa  Inggris.  Penting  untuk  dicatat  bahwa  dalam  struktur MPK  UIN  Sunan Ampel  Surabaya,  kedua  mata  kuliah  (yang  dalam  penyelenggaraan  pendidikan sebelumnya masingmasing bernilai 6 SKS) akan dijadikan sebagai matakuliah  dalam  rumpun  MPK  namun  tidak  berbobot  SKS  (nonSKS)  sama  sekali.

Perubahan  status  ini  tanpa  mengurangi  kualitas  pembelajaran  Bahasa  Arab  dan Inggris.  Pasalnya, UINSunan  Ampel  juga mengembangkan  komponen  strategi  lain dari pengembangan kurikulum dengan tiga program kegiatan akademik utama, yakni: (1) menjadikan keterlibatan kedua mata kuliah(masingmasing bernilai 6 SKS) melalui  skema  program  pembelajaran  intensif  oleh  Pusat  Pengembangan  Bahasa (P2B)  sebagai  prasyarat  untuk  mengikuti  mata  kuliah  keislaman  lainnya,  (2) pengasramaan  wajib  model  pesantren  mahasiswa  yang  di  dalamnya  terdapat penguatan keterampilan kebahasaan secara  intensif, Arab maupun  Inggris, serta  (3) skema  pendampingan mahasiswa  yang  dikelola  oleh  Pusat  PendampinganMahasiswa (Puspema). 

Poin  ketiga  yang  perlu  dijelaskan  dalam  kaitan  ini  berhubungan  dengan content material mata kuliah Studi alQur’an dan Studi Hadits. Selain materimateri substansial yang berkaitan masingmasing dengan kajian Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadits, Studi alQur’an   dan Studi Hadits mengakomodasikepentingan praktis ibadah. Pada kemasan silabus Studi alQur’an, misalnya,  akan dilakukan  penguatan satu kompetensi  dasar  yang  secara  spesifik  menyangkut  keterampilan membaca alQur’an.  Keterampilan  praktis  ibadah lainnya  dan  lebih  lanjut di antaranya diperkuat melalui skema pendampinganmahasiswa yang dikelola oleh Puspema. 

UIN Sunan Ampel Surabaya akan mengimplementasikan program  akademik   berupa  penguatan  penalaran  keislaman  mahasiswa  yang berfungsi  sebagai  penguatan  basis  akademik  keislaman  mereka.  Dengan menggunakan bahan ajar atau modul pendampingan penalaran keislaman yang diciptakan oleh  Puspema,  program  ini,  pada  hakikatnya,  adalah  matrikulasi  bagi  mahasiswa yang  berasal  dari  pendidikan  nonsekolah  keislaman  dengan  tujuan  untuk menstandarkan pemahaman materi keislaman  mahasiswa.  Minimal  sebelum  menempuh  Kuliah  Kerja Nyata  (KKN),  mahasiswa  diharuskan  untuk  lulus  dalam  mengikuti  program pendampinganmelalui modul penalaran keislaman ini. 

Lebih  dari  itu,  dalam  kerangka  strategi  pengembangan  kurikulum  di  atas, seluruh  mata  kuliah  yang  berkepentingan  untuk  penguatan  kemampuan  atau kompetensi  utama  mahasiswa  akan  diselenggarakan  dalam  desain  kurikulum kompeteni  utama  dengan  beberapa  rumpun  mata  kuliahnya,  dan  bukan  dalam desain  kurikulum  kompetensi  dasar  atau  rumpun  mata  kuliah  pengembangan  kepribadaian  (MPK).  Rumpun mata kuliah  bagi  pengembangan  kompetensi  utama dimaksud  meliputi  MKK,  MKB,  MPB,  serta  MBB.  Dengan  strategi  pengembangan kurikulum,  maka pembelajaran  Bahasa  Inggris,  antar jurusan  akan  berbeda karena  kompetensi  utama  masingmasingnya  berlainan.  Contoh konkretnya, akan muncul English  for  Islamic  Studies bagi  mahasiswa  jurusan  Filsafat  dan  Pemikiran  Islam  di  Fakultas  Ushuludin  dan Pemikiran.  Juga, akan lahir English  for  Social  Sciences bagi mahasiswa di  FISIP, dan seterusnya. (Muzakki, dkk., 2010).

Dalam pengembangan desain kurikulum keilmuan multidisipliner di atas, sebuah fakta tidak bisa dielakkan bahwa yang membedakan lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia seperti IAIN Sunan Ampel dari perguruan tinggi umum, baik di Indonesia maupun apalagi di Barat, adalah beban sosial di samping beban akademik. Beban sosial ini lahir dari ekspektasi publik Muslim terhadap kelembagaan pendidikan tinggi Islam itu sendiri. Konsep beban sosial ini penting untuk diajukan di sini sebagai satu bahan pertimbangan dari pengembangan pendidikan dalam penyelenggaraan institusi pendidikan tinggi Islam.

Poin penting dari hasil penelitian terkini ini semakin tampak signifikansinya bagi pengembangan keilmuan multidisipliner atau interdisipliner di lembaga pendidikan tinggi Islam, seperti IAIN (menuju UIN) Sunan Ampel. Pasalnya, keberadaan lembaga pendidikan tinggi Islam seperti IAIN diasumsikan oleh masyarakat luas sebagai tidak terlepas dari dua kepentingan sekaligus, yakni sebagai lembaga akademik dan lembaga keagamaan, seperti dijelaskan di atas.Sesuai dengan semangat dari hasil penelitian terkini dimaksud, maka pola pengembangan keilmuan multidisipliner di UIN Sunan Ampel harus dibangun dari kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan tidak saja dipengaruhi oleh pembelajaran di kampus akan tetapi pembelajaran lebih luas, yakni melalui interaksi kehidupan mahasiswanya dengan lingkungan di sekitarnya, baik langsung maupun tidak. Standar keberhasilan seperti ini memang juga berlaku di perguruan tinggi lainnya, namun tidak seberat yang harus ditunaikan oleh IAIN menyusul posisinya yang sudah dari awal dipersepsikan oleh masyarakat luas sebagai lembaga akademik dan dakwah. (Syam, 2010: 430-436).

Oleh karena itu, pengembangan keilmuan multidisipliner di UIN Sunan Ampel Surabaya patut untuk melengkapi perkuliahan reguler, sebagaimana perguruan tinggi lainnya, dengan perkuliahan non-reguler model pengasramaan pesantren. Patut disemai di lingkungan pendidikan tinggi Islam tardisi penyelenggaraan pendidikan model pengasramaan pesantren di sela-sela pendidikan formal-reguler di perkuliahan. Kepentingan pengembangan keilmuan multidisipliner melalui skema perkuliahan reguler dan pengasraman di atas adalah bersifat komplemen., yakni untuk membantu menjamin terselenggaranya kurikulum pembelajaran yang bergerak di dua pendulum besar, keilmuan agama dan umum, melalui proses integrasi. Tentu, integrasi disini lebih dimaksudkan untuk membantu menjamin satu disiplin keilmuan sebagai obyek kajian dan lainnya sebagai pendekatan. Jika praktik penyelenggaraan pendidikan seperti ini bisa dijamin, maka proyek besar pengembangan keilmuan multidisipliner menjadi menemukan jalan realisasinya. Dengan model pengelolaan pembelajaran seperti ini, maka upaya pencapaian kompetensi dasar, utama dan tambahan bisa mengalami sinergi, dan dengan demikian mempermudah jalan keberhasilan bagi pengembangan keilmuan multidisipliner di atas.

C.      Analisis Data

1.        Struktur Keilmuan UIN Sunan Ampel dengan Paradigma Integrated Twin Towers ModelPentadik Integralisme Monistik Islam

 

Mencermati model integrasi yang akan dikembangkan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Barangkali inilah yang disebut zaman postmodern.  Di era ini kita menyaksikan suatu bentuk realitas dunia yang mulai memperlihatkan suatu unitas, tapi sekaligus di dalamnya ada pluralitas. Misalnya, kecenderungan besar (mega trend) terjadinya globalisasi yang menjadikan dunia lain menjadi transparan. Dalam dunia kultural, kita menyaksikan saling mendekatnya antara wacana tradisional dan modern. Demikian juga dalam dunia pendidikan tampaknya tidak dapat lepas dari dua arus besar ini. Maka pola pendidikan lama, yaitu pendidikan yang bercorak tradisional di satu pihak, dan pendidikan yang bercorak modern di pihak lain, mulai banyak dikritik orang, kata Malik Fadjar pendidikan seperti itu hanya akan menghasilkan pribadi yang pincang (split personality). (Barizi, 2001: 225).

Jika kita mencoba menguak kembali konsep ’ilm dalam al-Qur’an, maka akan nampak jelas cacat teologis dan filosofis pembidangan keilmuan yang bersifat dualisme-dikotomis itu. Sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an, menurut penjelasan Mahdi Ghulsyani, konsep ilmu secara mutlak muncul dalam maknanya yang masih umum (generik). Misalnya, QS. Al-Baqarah [2]: 31, QS Yusuf [12]: 76, dan An-Nahl [16]: 70. Bahkan kata Murtadha Muthahhari, akan menyebabkan kesalahan memandang bahwa ilmu ”non agama” terpisah dari Islam.

Karena itulah, dalam rangka pengembangan keilmuan IAIN menuju UIN Sunan Ampel Surabaya menekankan integrasi ilmu agama dan ilmu umum dalam kurikulum dan model pembelajaran yang dijalankan. Dengan demikian, Islamic knowledges (al-ulum al-Islamiyyah) yang akan dikembangkan oleh UIN Sunan Ampeladalah ilmu pengetahuan yang dibangun berdasarkan ajaran Islam—sebagaimana tertuang dalam sumber ajarannya yang utama, yakni al-Qur’an dan al-Sunnah—sekaligus pengetahuan yang sama dibangun berdasarkan hasil observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis.

Sedangkan model integrasi keilmuannya dapat menggunakanmodel pentadik integralisme monistik Islam yaitu sebuah paradigma unifikasi bagi ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu keagamaan. Akan tetapi, paradigma unifikasi itu bukan hanya menyatukan ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu keagamaan, melainkan juga merupakan paradigma ilmu-ilmu kemasyarakatan dan kemanusiaan. Dalam hal iniIslam tidak sekadar menjadi perspektif, atau sebagai pelengkap dari kajian ilmiah yang ada, dan apalagi kajian yang terpisah dari sains. Tetapi, justru Islam harus menjadi ‘pengawal’ dari setiap kerja sains oleh setiap para ilmuan (dosen).

Di samping tercermin dalam aspek kurikulum, integrasi ilmu agama dan ilmu umum juga teaktualisasikan dalam model pembelajaran yang dikembangkan, di mana UIN Sunan Ampel seharusnya mengembangkan keterpaduan tradisi intelektual perguruan tinggi dan tradisi kearifan pesantren. Tradisi intelektual perguruan tinggi dikembangkan melalui proses pembelajaran di ruang-ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, serta sumber-sumber belajar di pusat-pusat kajian UIN Sunan Ampel, seperti Pusat  Informasi dan Kajian  Islam  (PIKI) dan Laboratorium Keagamaan, sedangkan pengembangan kearifan pesantren dijalankankan melalui pembinaan kearifan Islam di lembaga pesantren mahasiswadan berkoordinasi dengan Pusat Pendampingan Mahasiswa (Puspema), serta pengembangan kultur Islami yang melibatkan seluruh warga kampus melalui kegiatan-kegiatan bersama, seperti shalat berjamaah, dan Iain-lain.

2.    Pengembangan Kurikulum UIN Sunan Ampel dengan Paradigma Integrated Twin Towers Model Simbiosis-Mutualism

Berdasarkan pemaparan data di atas dan mencermati rencana visi dan misi UIN Sunan Ampel serta skema pengembangan keilmuan berdasarkan integrated twin towers, maka dalam rangka mengembangkan kurikulum UIN Sunan Ampel Surabaya dapat menggunakan model simbiosis-mutualism –yang dikembangkan oleh Nurali- yaitu materi kurikulum disusun dan dikembangkan bersama-sama secara multidisipliner untuk mencapai standar kompetensi tertentu atau standar kompetensi lulusan lembaga pendidikan. Misalnya kompetensi dasar tertentu yang ada pada Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah yaitu mata kuliah biologi dikaitkan dengan kompetensi dasar yang ada pada mata kuliah sosiologi, pendidikan agama, atau studi al-qur’an, studi al-hadits, fikih dan kemudian digabungkan dan/atau dilebur menjadi satu kompetensi dasar tertentu dan/atau suatu standar kompetensi untuk mencapai standar kompetensi lulusan dan misi-visi Prodi PGMI. Lebih jelasnya, mengenai implementasi kurikulum integratif model simbiosis-mutualism di tingkat kelembagaan, desain kegiatan pembelajaran dan proses pembelajarannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

                               

Oval: Sistem Pend Pesantren Mahasiswa<br /> (Budaya dan Tradisinya)<br />   



 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar  7: kurikulum integratif Model simbiosis-mutualisme   pada tingkat kelembagaan di UIN Sunan Ampel Surabaya


 

 



   

 




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Gambar  8:kurikulum integratif Model simbiosis-mutualisme pada Desain kegiatan pembelajarannya

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Gambar  9: kurikulum integratif Model simbiosis-mutualisme pada Proses pembelajarannya

 

D.  Penutup

1.    Simpulan

Struktur keilmuan IAIN menuju UIN Sunan Ampel Surabaya adalah memadukan antara ilmu agama dan ilmu umum dengan menggunakan paradigma Integrated Twin Towers with 3 Pilars.Yaitu membangun  struktur keilmuan yang  memungkinkan  ilmu  keagamaan  dan  ilmu  sosial/humaniora  serta  ilmu  alam berkembang  secara memadai  dan  wajar, sehingga  keduanya  tersambung dan  bertemu  dalam  puncak  yang  saling menyapa,  yang  dikenal dengan konsep ilmu keislaman multidisipliner. Untuk mendukung program tersebut, ada dua strategi  yang  akan dikembangkan  yaitu  (1)  pengasramaan  selama  2 semester  bagi  semua mahasiswa  baru  di  pesantren mahasiswa,  dan  (2)  penguatan  spiritualisasi keilmuan umum dengan prinsip  integralisasi  keilmuan umum (sosialhumaniora, sains dan teknologi) dan keislaman.

Desain pengembangan kurikulum berdasarkan paradigma integrated  twin towers yang akan dikembangkan  UIN  Sunan  Ampel  Surabaya  digerakkan melalui penguatan tiga pilar program akademik, yaitu (1)  penguatan  ilmuilmu keislaman  murni  tapi  langka,  (2)  integralisasi  keilmuan  keislaman  pengembangan  dengan  keilmuan  sosialhumaniora,  dan  (3) pembobotan  keilmuan  sains  dan  teknologi dengan keilmuan keislaman. Sedangkan untuk mengintegrasikan kurikulum ilmu agama dan umum dapat menggunakan model simbiosis-mutualism

B. Saran-Saran

            Agar paradigma Integrated Twin Towers yang akan dikembangkan UIN Sunan Ampel Surabaya dapat terlaksana secara efektif, peneliti memberikan masukan sebagai berikut:(1) Pada ranah filosofis integrasi multidisipliner model Twin Towers, setiap mata kuliah harus diberi nilai fundamental eksistensial dalam kaitannya dengan disisplin keilmuan lainnya dan dalam hubungannya dengan nilai-nilai humanistik; (2) Pada ranah materi, integrasi multidisipliner model Twin Towers merupakan bagaimana suatu proses mengintegrasikan nilai-nilai kebenaran universal umumnya dan keislaman khususnya dalam pengajaran mata kuliah umum seperti antropologi, filsafat, dll. Implementasi tersebut dapat berbentuk yaitu (a) Model pengintegrasian ke dalam paket kurikulum; (b)Model penamaan mata kuliah yang menunjukkan hubungan antara dua disiplin ilmu umum dan keislaman; (c) Model pengintegrasian ke dalam tema-tema mata kuliah. Dan (3) Pada ranah strategi, merupakan ranah pelaksanaan atau praktis dari proses pembelajaran keilmuan integrasi multidisipliner model Twin Towers.

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin. 2005. “ Desin Pengembangan Akademik IAIN menuju UIN Sunan Kalijaga: dari Pola Pendekatan Dikotomis-Atomistik ke Arah Integratif Interdiciplinary, dalam Jarot Wahyudi dkk, Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi. Bandung Mizan.

 Al-Jabiri, Muhammad ‘Abid, 1990. Bunyah Al-‘Aql Al-Arabi: Dirasah tahliliyyah naqdiyyah li nuzhum al-ma’rifah fi al-tsaqafah al-‘arabiyyah, Beirut: Markaz Dirasah Al-Wihdah Al-Arabiyyah.

 Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru.  Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

 Barizi, Ahmad, Imam Tholhah. 2004. Membuka Jendela Pendidikan Mengurai Akar Tradisi dan Intregasi Keilmuan Pendidikan Islam. Jakarta: RajaGrasindo Persada.

 Bilgrami, Hamid Hasan dan Sayid Ali Asyraf, Konsep Universitas Islam, terj.terj. Machnun Husein, Yogya; Tiara Wacana, 1999.

 Gorton,School Administration Challenge and Opportunity for Leadership, New York: Brown Company Publishers,1976.

Kuntowijoyo. 1991. Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.

 Mudzhar, M. Athok. 2002. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, cet. IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 Muhaimin. 2003. Arah Pengembangan Pendidikan Islam Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum Hingga Redifinisi Islamisasi Pengetahuan.  Bandung: Nuansa.

 Muzakki, Akh. 2010. “Perspektif Pendidikan tentang Pengembangan Keilmuan Multidisipliner”, dalam Nur Syam, ed., Integrated Twin Towers Arah Pengembangan Islamic Studies Multidisipliner. Surabaya, Sunan Ampel Press.

 Nata, Abuddin, dkk.,  Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005.

__________,Manajeman Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Bogor: Kencana, 2003.

 Prayogo, Imam. 2006. “Pengembangan Ilmu Pengetahuan di PTAI”, Makalah pada Annual Conference Kajian Islam, Bandung 23-30 Nopember.

 Qomar, Mujamil. T.t. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi . Jakarta: Penerbit Erlangga.

 Syam, Nur. 2010. “Membangun Keilmuan Islam Multidisipliner: Memahami Proses Saling Menyapa Ilmu Agama dan Umum”, dalam Nur Syam, ed., Integrated Twin Towers Arah Pengembangan Islamic Studies Multidisipliner. Surabaya, Sunan Ampel Press.

 


[1] Dosen Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Alumni Program Doktor (S3) Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

Posted in  

Categories


More Categories


Archives


Older


Links


More Links